id

Tolak Penambangan Pasir, Nelayan Serang Bakal Demo Pemprov Banten

By  Mar 07, 2016 | 15:03
Puluhan nelayan Desa Lontar saat menanyakan aktifitas kapal Queen of Nederland yang melakukan penambangan pasir di lepas pantai yang menjadi lokasi pencarian ikan. Penolakan nelayan akan terus dilakukan dengan menggelar aksi unras ke Pemprov Banten besok. (FOTO: Dian Sucitra/ Banten Hits)

Banten Hits - Penolakan terhadap aktifitas penambangan pasir laut oleh kapal Queen of Nederland di lepas pantai Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang terus bergulir. (BACA: Kapal Queen of Nederland Sedot Pasir Laut, Nelayan Serang Kesulitan Cari Ikan)

Setelah melaporkan aktifitas penyedotan pasir kapal yang diketahui milik PT Jet Star ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, besok selasa (7/3/2016), warga setempat yang notabene merupakan nelayan akan menggelar unjuk rasa ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. (BACA: Lewat SMS Nelayan Serang Laporkan Penambangan Pasir Queen of Nederland ke KKP, Begini Isinya)

Niatan warga tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa yang mengaku, pihaknya tidak pernah dilibatkan terkait dengan aktifitas tersebut, termasuk surat tembusan yang tak pernah diterima.

"Saya mendukung keinginan masyarakat tentang penolakan tambang pasir PT Jet Star di Desa Lontar. Makanya, besok saya akan ikut warga aksi ke Pemprov Banten," kata Kepala Desa Lontar, Aklani, usai bertemu puluhan warga yang datang ke kantornya untuk meminta kejelasan soal aktifitas tambang pasir yang menimbulkan keresahan para nelayan, Senin (6/3/2016). (BACA: Penambangan Pasir oleh Queen of Nederland Bisa Picu Perlawanan Nelayan Serang)

Pihak perusahaan, juga diketahui belum pernah menemui masyarakat untuk mensosialisasikan aktifitas kapal penambang tersebut.

"Kami belum pernah dilibatkan dalam berbagai hal terkait izin tambang pasir ini. Apalagi sosialisasi, belum pernah," ungkap Rohman, seorang juru tulis Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Desa tersebut.(Nda)

Dian Sucitra

Dian Sucitra memulai karir jurnalistik di Banten Hits 2013 lalu, namun pada awal 2014 resign dan memutuskan bergabung dengan media lain di Banten. Pengujung 2014 kembali bergabung dengan Banten Hits lalu kembali resign pada Februari 2016 untuk bergabung di website seni dan budaya.