id

Begini Kata Suku Adat Baduy Soal Gerhana Matahari

By  Mar 10, 2016 | 01:23
Suasana di perkampungan Suku Adat Baduy, Kabupaten Lebak. Menurut warga Baduy, gerhana yang terjadi di tahun ini bukan sesuatu yang membawa penyakit lantaran jadwal kemunculannya memang sudah diprediksi sesuai perhitungan mereka. Kecuali, kemunculan gerhana diketahui dari wangsit leluhur melalui mimpi barulah kemudian warga Baduy akan melakukan sebuah ritual khusus. (FOTO: Dian Sucitra/ Banten Hits

Banten Hits - Gerhana Matahari Total (GMT) yang berlangsung Rabu (9/3/2016) pagi telah menunjukan pesonanya. Terutama, bagi warga di beberapa Provinsi di Indonesia yang memang bisa merasakan langsung perubahan suasana saat GMT terjadi.

Kendati bukan menjadi jalur totalitas gerhana. Namun, masyarakat di sejumlah wilayah di Jakarta bisa melihat fenomena langka tersebut (parsial gerhana matahari), meski tak mencapai 100 persen seperti halnya di Palembang, Palu maupun Ternate.

Lalu bagaimana pendapat Suku Adat Baduy di Kabupaten Lebak tentang gerhana matahai yang menjadi daya tarik banyak orang tersebut.

Meski tidak mengenal ilmu pengetahuan alam secara formal, dan memencilkan diri dari dunia luar. Masyarakat adat Baduy, ternyata mempunyai cara tersendiri untuk mendeteksi kedatangan fenomena langka tersebut.

Ada dua cara yang mereka gunakan untuk mengetahui kedatangan gerhana. Pertama, dengan membaca siklus alam dan Kolenjer (perhitungan-red) tanggal. Dan cara yang kedua dari wangsit atau pesan dari Karuhun (leluhur) melalui mimpi.

Menurut Suku Baduy, gerhana matahari yang juga bertepatan dengan perayaan Nyepi merupakan gerhana yang sudah diketahui kehadirannya oleh mereka, melalui Kolenjer penanggalan. Gerhana itu pun dianggap normal, karena datang sesuai jadwal dalam perspektif masyarakat Baduy.

"Wanci ieumah, bulan jeung mata poe bobogohan, lain panyakit. (Ini emang waktunya, bulan dan matahari berpacaran, bukan pertanda kedatangan penyakit)," ujar tetua Kampung Gajeboh Abah Sali.

Lantaran dianggap bukan hal yang akan membawa bahaya atau penyakit, tidak ada aktifitas khusus menghadapi gerhana kali ini. Seluruh warga masyarakat yang beragama Sunda Wiwitan di Selatan Banten tersebut tetap menjalankan aktivitasnya dengan normal.

Namun, kondisi ini akan berbeda jika kedatangan gerhana yang dikabarkan oleh leluhur melalui mimpi. Maka, Kokolot (tetua) di seluruh Kampung yang berada di lingkungan Desa Kanekes akan menggelar ritual khusus. Para lelaki dikumpulkan di rumah Kokolot Kampung, dan ritual pun segera dilaksanakan.

"Loba jampe-jampena (Banyak jampi-jampinya)," ungkap Abah Sali.

Sementara, saat para lelaki melaksanakan ritual, kaum perempuan dan anak-anak tinggal di rumah hingga gerhana yang dianggap pertanda kedatangan penyakit tersebut berakhir.(Nda)

Dian Sucitra

Dian Sucitra memulai karir jurnalistik di Banten Hits 2013 lalu, namun pada awal 2014 resign dan memutuskan bergabung dengan media lain di Banten. Pengujung 2014 kembali bergabung dengan Banten Hits lalu kembali resign pada Februari 2016 untuk bergabung di website seni dan budaya.