id

Ditolak Nelayan Lontar, Penambangan Pasir Laut Justru Didukung Warga Pulau Tunda Serang

By  Mar 10, 2016 | 18:45
Kondisi di Pulau Tunda. Berbeda dengan Nelayan di Desa Lontar yang menolak aktifitas penambangan pasir, warga nelayan di Pulau yang hanya ditempati satu Desa ini justru mendukung adanya aktifitas penambangan pasir laut. Menurut warga, dana CSR dari setiap penambangan oleh perusahaan sangat membantu bagi kesejahteraan 1200 jiwa di Desa tersebut. (FOTO: Dian Sucitra/ Banten Hits)

Banten Hits - Aktifitas penambangan pasir laut oleh kapal asing Queen of Nederland, mendapat penolakan keras dari para nelayan pesisir utara Kabupaten Serang. (BACA: Kapal Queen of Nederland Sedot Pasir Laut, Nelayan Serang Kesulitan Cari Ikan)

 

Keberadaan penambangan pasir oleh kapal asing tersebut membuat nelayan yang berada di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang ini resah lantaran sulitnya mendapat penghasilan dari melaut.

Pasalnya, aktifitas kapal berada di lokasi biasa para nelayan memasang jaring ikan. Kondisi tersebut memaksa nelayan harus mencari lokasi lain dengan resiko hasil yang didapat tidak sebanyak di lokasi biasanya.

Namun, apa yang dialami oleh para nelayan di Lontar justru berbeda dengan kondisi warga dan nelayan di Pulau Tunda, Kabupaten Serang. Jika penambangan pasir ditolak oleh Nelayan Lontar, warga di Pulau Tunda justru mendukung dengan aktifitas tersebut.

Menurut warga, penambangan pasir laut bukan sesuatu yang baru. Pasalnya, aktifitas penambangan sudah dilakukan oleh berbagai perusahaan sejak tahun 2012 lalu. Dari aktifitas tersebut, warga di Pulau Tunda yang hanya terdiri satu Desa yakni Desa Wargasara mendapat dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Sebelum adanya penambangan pasir laut, masyarakat Desa Wargasara hanya mengecap pendidikan sekolah dasar (SD). Namun, setelah adanya penambangan pasir laut, masyarakat Desa Wargasara minimal berpendidikan SMA. Bahkan, banyak diantaranya yang sarjana.

“Sebelum ada penambangan pasir masyarakat di sini hanya mampu menempuh pendidikan SD saja, tapi sekarang sudah banyak yang Sarjana, minimal tamat SMA,” kata Kepala Desa (Kades) Wargasara, Syamsul Bahri, Kamis (10/3/2016).

Tak hanya sebagian yang mendapat dana CSR dari setiap penambangan pasir. Sebanyak 1.200 jiwa penduduk di Desa yanga dipimpinnya mendapatkan kompensasi dari perusahaan dengan jumlah yang bervariasi. Mulai dari uang tunai, beasiswa, pembangunan tempat ibadah dan infrastruktur.

“Kalau dibandingkan dulu dan sekarang, banyak kemajuan yang dialami Desa Wargasara. Dari pasokan listrik yang mudah, jalan-jalan Desa yang baik dan tempat ibadah yang besar,” ungkap Syamsul. (BACA: Lewat SMS Nelayan Serang Laporkan Penambangan Pasir Queen of Nederland ke KKP, Begini Isinya)

Jadi lanjut Syamsul, warganya sangat mendukung aktifitas penambangan pasir yang dilakukan Kapal Queen of Nederland.

"Kalau tidak ada penambangan pasir laut, kehidupan masyarakat di sini bakal seperti dulu lagi. Penghasilan sebagai nelayan sudah tidak mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak mereka," jelasnya.

“Masyarakat sangat menggantungkan harapanya dari penambangan pasir laut,” sambungnya. (BACA: Penambangan Pasir oleh Queen of Nederland Bisa Picu Perlawanan Nelayan Serang)

Kesejahteraan masyarakat yang dipaparkan Syamsul, diamini oleh Roshid, salah seorang warga setempat kepada Banten Hits. Meski tidak menyebut berapa nominalnya, ia membenarkan tentang dana CSR dari perusahaan yang diperuntukkan membantu warga.

Pria yang akrab disapa Ocid ini mengaku tengah fokus di usaha pariwisata seperti diving dan Snorkling. Saat ditanya pendapatnya soal kesejahteraan masyarakat, Roshid mengaku, keadaan masyarakat di Pulau Tunda saat kini lebih baik.

"Mas lihat saja sendiri keadaannya sekarang dengan rata-rata keadaan masyarakat di Kabupaten Serang," katanya.

“Kalau harapan kami warga Wargasara, penambangan di Pulau Tunda harus tetap berjalan agar masyarakat lebih sejahtera,” tambah Sawiyan warga lainnya.(Nda)

Dian Sucitra

Dian Sucitra memulai karir jurnalistik di Banten Hits 2013 lalu, namun pada awal 2014 resign dan memutuskan bergabung dengan media lain di Banten. Pengujung 2014 kembali bergabung dengan Banten Hits lalu kembali resign pada Februari 2016 untuk bergabung di website seni dan budaya.