Kungfu tak hanya sekadar seni bela diri, melainkan juga di dalamnya terdapat teknik menyatukan panca indera, hati dan pikiran dengan seluruh unsur di alam semesta. Itulah kenapa tokoh Wong Fei Hung yang diperankan Jet Lee dalam "Once Upon A Time in China" tetap bisa bergerak melumpuhkan musuhnya dalam keadaan mata tertutup, bahkan saat mabuk sekalipun.

Jika merujuk pada arti kata, Kungfu memiliki makna yang lebih luas, yakni sesuatu yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama dan dengan ketekunan yang tinggi. Dengan demikian, seorang ahli masak yang hebat pun dapat dikatakan memiliki Kungfu yang tinggi (Wikipedia).

Di Indonesia pada masa lalu, ada banyak istilah lain untuk Kungfu, di antaranya yang populer adalah Kuntao. Namun, saat ini istilah tersebut sudah jarang terdengar lagi.

Banten yang dikenal sebagai tanah para jawara, ternyata masuk salah satu wilayah yang menjadi pusat perkembangan Kungfu. Informasi-informasi soal Kungfu di Banten pada masa lalu di antaranya didokumentasikan trio Alex, Charly, dan Erwin alias ACE dalam buku mereka berjudul "Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia".

Reporter Banten Hits / BITV Tifa Auliani dan Yogi Triandono bersama juru kamera Taufik Hidayat, berkesempatan hadir dalam launching buku trio ACE di sebuah pusat belanja di Jakarta Barat, Sabtu (21/1/2017).

"Kami ingin ada dokumentasi mengenai Kungfu tradisional di Indonesia, salah satunya di Banten. Karena secara historis banyak etnis Tionghoa yang tinggal di sana dan memiliki sejarah panjang di sana," kata Alex, salah satu penulis buku itu.

Waktu panjang ditempuh ACE dalam membuat buku ini. Berbagai proses unik pun dirasakan tim saat mewawancarai berbagai narasumber, salah satunya adalah melakukan ritual khusus khas etnis Tionghoa.

"Pembuatan buku ini memakan waktu empat tahun karena proses yang tidak mudah. Hampir di setiap narasumber kami meminta izin langsung. Kadang dengan ritual khusus sesuai budaya Tionghoa, terutama di daerah Benteng (Tangerang) banyak sekali tradisi-tradisi ketat, di mana kami harus memasang hio dulu mengikuti upacara-upacara tertentu sebelum melakukan wawancara atau pengambilan foto," terang Alex.

Sekilas tidak ada yang berbeda dari ruko bernomor C 28/25, Golden Road, CBD BSD, Kelurahan Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) ini.

Yang membedakan ruko tersebut dengan ruko lainnya hanyalah sebuah plang sekira 2,5 x 1 meter yang terpasang di dinding luar atas ruko. "Museum Pustaka Tionghoa Peranakan", begitulah tulisan pada plang dengan warna dasar merah bermotif khas Tionghoa ini.

Memasuki Museum Pustaka Tionghoa Peranakan, segera saja mata akan tertuju kepada deretan literatur tua tentang Tionghoa dari berbagai negara dengan tahun terbitan beragam, mulai dari tahun terbitan 1700.

Yang menarik dari Museum Pustaka Tionghoa Peranakan bukan hanya literatur kuno di dalamnya, melainkan juga sosok Azmi alias Daud (44), pemilik museum ini. Pria lulusan teknik sipil Institut Teknologi Indonesia ini sama sekali tak memiliki keturunan Tionghoa. Dia muslim asal Aceh.       

Museum Pustaka Tionghoa Peranakan ini didirikan Daud pada 7 Januari 2016. Berawal dari hobinya membaca buku, pengusaha buku bekas, buku langka, dan mie aceh ini mengumpulkan berbagai macam buku, mulai dari buku bekas santai hingga buku-buku langka yang memiliki nilai jual tinggi. 

Karena banyak buku-buku berharga yang tidak ingin dijual, Azmi kemudian berinisiatif membuat Museum Pustaka Tionghoa Peranakan, agar literatur tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa harus menjualnya.

"Museum ini merupakan bagian dari literatur langka yang saya kumpulkan, karena jika dijual susah lagi mencarinya. Namun saya ingin literatur tersebut dapat diakses masyarakat banyak, maka terciptalah museum ini," kata Azmi dalam perbincangan dengan wartawan Banten Hits/BTV Yogi Triandono dan juru kamera Muhammad Wildan, Kamis (19/1/2017). 

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Museum Benteng Heritage di Jalan Cilame, Kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang, pasti pernah terbersit pertanyaan tentang siapa sesungguhnya pemilik tiga rumah--yang dua rumah di antaranya--saat ini dijadikan Museum Benteng Heritage?

Museum Benteng Heritage berada di Jalan Cilame, Kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang. Tempat ini agak sulit ditemui karena lokasinya menjorok dari jalan utama, serta berada di dalam kawasan pasar. Selain itu, kurangnya rambu-rambu penunjuk yang mengarah ke Museum Benteng Heritage membuat pengunjung agak kesulitan menemukan lokasinya.

Ada yang menarik saat perayaan Sejit Khongco Hok Tek Ceng Sin ke 324 di Vihara Nimmala Boen San Bio, Kota Tangerang, Selasa (12/3/2013).