id

Dari Pelosok Sepi, KPJ Lebak Menggelorakan Semangat Literasi sambil Tetap Bernyanyi

By  Sep 13, 2015 | 09:04
Anak-anak terlihat apresiasi membaca buku-buku di perpus/taman baca KPJ keliling. Langkah jemput bola tersebut dilakukan KPJ untuk meningkatkan minat baca anak-anak di Kabupaten Lebak. (FOTO: Dok. KPJ Lebak).

Kiprah Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Lebak tak hanya sebatas mencipta lagu. Mereka meleburkan diri pada misi kemanusiaan yang paling dasar: mencerdaskan anak bangsa. Alih-alih berkutat dengan lagu, KPJ  Lebak memilih mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) KPJ. Tujuannya satu, menularkan semangat baca pada anak-anak di kabupaten yang memiliki slogan Lebak Cerdas ini.

Hingga saat ini, terhitung sudah ada tujuh taman baca yang berada di empat kecamatan di Kabupaten Lebak. Tujuh taman baca tersebut berada di Desa Pasir Jati, Nyomplong, Babakan, Dukuh, Citundun, Sampay dan Cibuah.

Selain tujuh taman bacaan tersebut, kepedulian KPJ dalam minat baca anak-anak juga dilakukan dengan cara jemput bola melalui taman baca keliling menggunakan sebuah kendaraan roda milik KPAD Lebak. Untuk menarik minta anak-anak, KPJ juga tak segan-segan menunjukan performancenya dengan lagu-lagu pilihan.

Tak cuma itu, pada bagian belakang kendaraan keliling taman baca juga dimodifikasi dengan membuat miniatur Leuit Baduy. Semuanya dilakukan untuk meningkatkan minat baca para generasi sejak dini dengan cara jemput bola. Pasalnya, dengan cara jemput bola inilah minat anak-anak terhadap budaya membaca menjadi lebih meningkat.

"Animo anak-anak cukup baik. Bagaimana kitanya, artinya, dengan cara pelan-pelan dan sabar tentunya. Kalau kita datang ke setiap kampung atau ada acara, apresiasi anak-anak sangat bagus. Intinya, jangan mudah nyerah. Salah satunya ya dengan cara jemput bola ini," kata Ketua KPJ Lebak, Ahmad Lugas Kusnadi, saat berbincang dengan Banten Hits, belum lama ini.

Namun, seiring dengan perjalanan TBM yang sudah hampir lima tahun tersebut, peremajaan terhadap buku mutlak harus dilakukan. Dengan total sekitar 3.000 buku di seluruh taman baca dirasa masih sangat jauh dari kata ideal.

"Idealnya memang satu taman baca itu 2.000 buku, sementara total buku yang kita punya hanya 3.000. Tentunya, buku pun harus mengalami peremajaan. Untuk itu, kami mengajak masyarakat untuk ikut berpatisipasi menyumbangkan bukunya untuk taman baca KPJ yang poskonya di saung KPJ," terang pria yang akrab disapa Ugas tersebut.

Kata dia, buku yang dibutuhkan memang variatif, namun kebanyakan buku-buka tersebut yang berkaitan dengan bacaan anak-anak.

"Variatif sih, tentu kebanyakan buku-buku semisal cerita anak, sisanya yang umum," ucapya.

Ugas juga mengaku, untuk menghindari buku-buku yang memang tidak layak dibaca anak, buku-buku yang masuk sudah melalui proses pemilahan.

"Ya, kita pilah-pilah agar terhidar dibaca oleh anak," sambungnya seraya mengaku, keberadaan taman baca juga menjadi bagian pengembangan KPJ selain dibidang musik dan teater.

Terkait dengan dukungan Pemerintah Daerah, Ugas, mengaku kendati tidak dalam bentuk materi, dukungan sedikit banyak diberikan, salah satunya kendaraan KPAD yang digunakan untuk kegiatan perpus dan taman baca keliling.

"Alhamdulillah dukungan ada, walaupun tidak dalam bentuk materi. Kalau soal materi ya, ngambil dari kantong-kantong kita aja," kata Ugas seraya tersenyum.

Ia mengaku, untuk menunjang kegiatan taman baca KPJ tak pernah meminta bantuan materi kepada Pemda.

"Enggak tau, enggak bisa dan enggak pernah. Bukanya tidak mau, karena siapa sih yang enggak mau dibantu dari sisi (materi), tapi karena emang enggak tau," tutupnya.(Rus)

 

Ananda Deni

Memutuskan pilihan hidup sebagai jurnalis setelah masa-masa kuliahnya dulu dihabiskan dalam dunia pergerakan kampus. Pernah aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan dan bergabung dengan situs berita Banten Hits pada 2013.