id

Jalan Sunyi Jago-jago Kungfu di Bumi Jawara

By  Jan 23, 2017 | 20:10
Atlet Kungfu memeragakan jurus saat peluncuran buku "Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia".(Dok.Banten Hits)

Kungfu tak hanya sekadar seni bela diri, melainkan juga di dalamnya terdapat teknik menyatukan panca indera, hati dan pikiran dengan seluruh unsur di alam semesta. Itulah kenapa tokoh Wong Fei Hung yang diperankan Jet Lee dalam "Once Upon A Time in China" tetap bisa bergerak melumpuhkan musuhnya dalam keadaan mata tertutup, bahkan saat mabuk sekalipun.

Jika merujuk pada arti kata, Kungfu memiliki makna yang lebih luas, yakni sesuatu yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama dan dengan ketekunan yang tinggi. Dengan demikian, seorang ahli masak yang hebat pun dapat dikatakan memiliki Kungfu yang tinggi (Wikipedia).

Di Indonesia pada masa lalu, ada banyak istilah lain untuk Kungfu, di antaranya yang populer adalah Kuntao. Namun, saat ini istilah tersebut sudah jarang terdengar lagi.

Banten yang dikenal sebagai tanah para jawara, ternyata masuk salah satu wilayah yang menjadi pusat perkembangan Kungfu. Informasi-informasi soal Kungfu di Banten pada masa lalu di antaranya didokumentasikan trio Alex, Charly, dan Erwin alias ACE dalam buku mereka berjudul "Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia".

Reporter Banten Hits / BITV Tifa Auliani dan Yogi Triandono bersama juru kamera Taufik Hidayat, berkesempatan hadir dalam launching buku trio ACE di sebuah pusat belanja di Jakarta Barat, Sabtu (21/1/2017).

"Kami ingin ada dokumentasi mengenai Kungfu tradisional di Indonesia, salah satunya di Banten. Karena secara historis banyak etnis Tionghoa yang tinggal di sana dan memiliki sejarah panjang di sana," kata Alex, salah satu penulis buku itu.

Waktu panjang ditempuh ACE dalam membuat buku ini. Berbagai proses unik pun dirasakan tim saat mewawancarai berbagai narasumber, salah satunya adalah melakukan ritual khusus khas etnis Tionghoa.

"Pembuatan buku ini memakan waktu empat tahun karena proses yang tidak mudah. Hampir di setiap narasumber kami meminta izin langsung. Kadang dengan ritual khusus sesuai budaya Tionghoa, terutama di daerah Benteng (Tangerang) banyak sekali tradisi-tradisi ketat, di mana kami harus memasang hio dulu mengikuti upacara-upacara tertentu sebelum melakukan wawancara atau pengambilan foto," terang Alex.

Dari penelusuran selama mengumpulkan bahan dan informasi soal Kungfu di Banten, lanjut Alex, dirinya menjumpai banyak tokoh-tokoh bela diri Kungfu yang ada di Provinsi Banten. Namun, banyak dari mereka yang namanya tidak ingin disebarkan dengan berbagai alasan. 

Para jago-jago Kungfu di Banten, saat ini ada yang menjalani hari dengan bekerja di klenteng, menjadi aktivis, atau bekerja sebagai pengajar olahraga di klenteng tersebut.

"Ketika membicarakan tokoh bela diri Kungfu di Provinsi Banten, banyak sekali. Tetapi jujur hampir semuanya tidak ingin namanya diekspos. Ada banyak alasan, mulai dari terikat sumpah perguruan sampai trauma politik. Tetapi biasanya para tokoh ini bekerja di klenteng-klenteng di daerah Benteng, baik sebagai pengurus atau aktivis, atau bekerja sebagai pengajar di bidang olahraga di klenteng tersebut," ungkapnya.

Dengan adanya buku ini, trio ACE yang mewakili para tokoh Kungfu di Indonesia khususnya di Banten, berharap ada generasi muda yang meneruskan bela diri Kungfu ini agar alternatif pengenalan budaya ini tidak hilang.

"Kami berharap generasi untuk meneruskan agar tidak hilang. Buku ini sebagai dokumentasi, agar generasi saat ini dan generasi ke depannya terus melestarikan salah satu seni tradisional Tionghoa yang hampir punah ini," harapnya.(Rus)

 

Yogi Triandono

Pria asal Teluk Naga, Kabupaten Tangerang ini memulai karir jurnalistik di Banten Hits. Dia menekuni dunia jurnalistik sesuai disiplin ilmu yang diperoleh semasa kuliah di Universitas Budi Luhur. Yogi juga memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap dunia seni dan sastra.

Ayoo Berlangganan Berita Kami




Liputan Terkini BITV

Error: No articles to display